Jumat, 03 Mei 2013

Nasi Goreng Mengandung Akrilamid?


Siapa yang tak kenal dengan nasi goreng?  Makanan yang disukai oleh presiden Obama sewaktu kecil ini sangat mudah ditemui hampir diseluruh penjuru Indonesia bahkan mungkin dunia.  Seringkali makanan ini disajikan dengan telur goreng atau daging sebagai menu sarapan.  Bahkan, tak sedikit orang yang menjadikan nasi goreng sebagai makanan favoritnya.  Namun, apakah anda tahu jika nasi goreng yang enak dan biasa kita santap mengandung akrilamid?

Akrilamid merupakan senyawa penyusun poliakrilamid yang sering digunakan dalam pembuatan plastik, kertas, atau tekstil.  Namun, senyawa ini juga dapat muncul pada makanan.  Terlebih, jika terkonsumsi dalam jumlah yang banyak akan berbahaya dan berpotensi menyebabkan kanker.   Sebuah studi oleh WHO pada tahun 2002 menyatakan bahwa akrilamid terbukti menyebabkan tumor pada beberapa organ hewan percobaan seperti otak, jantung, kulit, dan ginjal.

Lembaga Administrasi Pangan Nasional Swedia (NFA) pada tahun 2002 menyatakan bahwa akrilamid terkandung pada makanan berkarbohidrat yang dimasak pada suhu tinggi (lebih dari 120°C) seperti digoreng, dipanggang, atau dibakar.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam 1 kg sampel nasi goreng mengandung akrilamid hingga 60 µg sedangkan nasi kukus tidak mengandung akrilamid secara berarti.  Tentu saja jumlahnya lebih rendah dari kandungan pada keripik pisang yang mencapai 770 µg/kg dan keripik kentang yang mencapai 1700 µg/kg.

Berbahaya atau tidaknya akrilamid bagi tubuh kita sangat ditentukan oleh jumlah yang dikonsumsi tiap harinya.  Sebuah survey mengatakan jumlah akrilamid rata-rata yang dikonsumsi masyarakat Hongkong pada tahun 2002 sebesar 0,3 µg/kg berat badan untuk setiap harinya.  Jumlahnya pada anak-anak sekolah lebih tinggi yaitu mencapai 0,4 µg/kg berat badan untuk setiap harinya.  Hal ini dimungkinkan karena anak-anak sangat suka dengan produk gorengan seperti nasi goreng, keripik kentang, dan produk sejenisnya.  Bisa jadi jumlah yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia lebih tinggi dari jumlah tersebut karena sebagian besar masyarakat Indonesia suka dan sering mengkonsumsi makanan gorengan.

Mengingat sering dan mudahnya  menemui dan mengkonsumsi makanan gorengan di Indonesia, sangat sulit untuk menghindari terkonsumsinya akrilamid melalui makanan gorengan.  Namun, untuk mengurangi resiko munculnya akrilamid pada makanan, sebaiknya jangan memasak makanan dengan suhu terlalu tinggi dan terlalu lama.  Konsumsi makanan secara seimbang dan beragam serta perbanyak konsumsi buah dan sayuran.   Selektif dalam memilih jajanan juga sebaiknya mulai diterapkan demi kesehatan kita.

0 komentar:

Posting Komentar